Konstruksi

Pembangunan Trotoar Jalan: Syarat Kelayakan yang Wajib Tahu!

Pembangunan Trotoar Jalan – Kamu pernah nggak, lagi jalan di trotoar tapi malah kepotong sama parkiran motor atau bolong-bolong yang bikin kesel? Nah, ternyata pembangunan trotoar itu nggak asal bikin, lho! Ada syarat kelayakan tertentu yang harus dipenuhi supaya pejalan kaki bisa merasa nyaman dan aman. Trotoar bukan cuma soal paving block yang rapi, tapi juga tentang bagaimana trotoar itu berfungsi buat melindungi pejalan kaki dari risiko di jalan raya.

Trotoar yang layak itu punya ketinggian tertentu dari permukaan jalan, dirancang sejajar dengan jalur lalu lintas, dan tentunya harus bebas dari hambatan seperti tiang listrik atau pedagang kaki lima. Tapi, nggak semua orang tahu apa saja yang jadi syarat biar trotoar ini benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya.

Jadi, kalau kamu penasaran atau mungkin sering merasa kesal dengan kondisi trotoar di sekitarmu, yuk kita bahas lebih dalam tentang pembangunan trotoar jalan dan syarat-syarat kelayakannya yang ternyata penting banget buat kehidupan kita sehari-hari!

Pembangunan Trotoar Jalan: Syarat Kelayakan yang Wajib Tahu!

Trotoar itu nggak cuma sekadar tempat buat jalan kaki, guys. Keberadaannya punya peran vital dalam memastikan pejalan kaki tetap aman dari lalu lintas kendaraan yang padat. Jadi, pembangunan trotoar jalan nggak bisa asal-asalan, ada syarat-syarat tertentu yang mesti dipenuhi. Yuk, kita bahas lebih dalam soal ini!

Ukuran Ideal Trotoar Jalan

Setiap trotoar punya ukuran yang wajib diperhatikan supaya nyaman dipakai dan nggak cuma jadi pajangan doang. Pertama, ada lebar efektif, yang berarti bagian trotoar yang benar-benar digunakan untuk pejalan kaki. Menurut peraturan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) tahun 1990, kawasan perdagangan seperti toko harus punya lebar trotoar minimal 2 meter. Kalau menurut Harris dan Denes, minimalnya 1,2 meter.

Tapi, nggak cuma itu. Ada juga jarak aman antara trotoar dan jalan, yang disebut ruang bebas. Ukurannya sekitar 0,75 meter, jadi nggak ada alasan buat kendaraan melintas sembarangan di area itu. Tinggi trotoar pun diatur, biasanya sekitar 10–15 cm, biar nggak bikin pejalan kaki gampang tersandung atau nggak nyaman saat berjalan.

Kemiringan Trotoar yang Pas

Trotoar jalan yang baik nggak boleh datar banget, tapi juga nggak boleh terlalu miring. Nah, ada dua jenis kemiringan yang harus diperhatikan: longitudinal dan silang. Kemiringan longitudinal idealnya ada di angka 0–3%. Kalau kondisi lingkungan lagi nggak mendukung, kemiringannya bisa dinaikin sampai 5–10%.

Untuk kemiringan silang, nilai idealnya sekitar 1–2%. Tapi, kalau memang kebutuhan materialnya beda, kemiringan maksimalnya bisa sampai 3%. Intinya, kemiringan ini harus dirancang sedemikian rupa supaya air nggak menggenang dan tetap aman buat pejalan kaki.

Penempatan Trotoar yang Tepat

Pernah lihat trotoar yang nggak enak dipakai? Biasanya ini gara-gara penempatannya salah. Trotoar idealnya ditempatkan sejajar dengan jalan utama. Tapi kalau topografi nggak memungkinkan, bisa sedikit disesuaikan. Selain itu, trotoar juga bisa ditempatkan di atas saluran drainase tertutup, biar hemat ruang tapi tetap multifungsi.

Di lokasi pemberhentian bus, trotoar harus dirancang berdampingan dengan jalur bus. Tujuannya biar pejalan kaki punya ruang aman saat naik atau turun dari kendaraan umum.

Fungsi Trotoar yang Wajib Diingat

Trotoar jalan itu nggak cuma buat gaya-gayaan kota, ya. Fungsi utamanya adalah melindungi keselamatan pejalan kaki dari kendaraan bermotor. Selain itu, trotoar juga bikin lalu lintas lebih tertib, karena memisahkan pejalan kaki dari kendaraan.

Nggak cuma itu, trotoar juga mendukung estetika kota. Di perkotaan, trotoar sering dijadikan tempat untuk utilitas lain seperti saluran kabel listrik atau telekomunikasi yang tertutup rapih. Jadi, trotoar sebenarnya multifungsi banget, asal direncanakan dengan baik.

Dimensi yang Wajib Diperhatikan

Selain tinggi dan lebar, dimensi trotoar juga meliputi ruang kebebasan untuk utilitas tambahan di bawahnya. Misalnya, ruang buat saluran air, kabel, atau pipa gas. Idealnya, kebebasan ini ada di kedalaman sekitar 1 meter dari muka trotoar. Kalau ruang utilitas ini nggak cukup, biasanya bakal bikin repot saat perawatan atau perbaikan fasilitas.

Lebar trotoar pun harus disesuaikan dengan intensitas penggunaannya. Kalau di kawasan perumahan mungkin cukup kecil, tapi di area pusat belanja atau terminal tentu butuh yang lebih lebar. Trotoar yang terlalu sempit di lokasi ramai bisa bikin orang jalan di pinggir jalan, dan itu bahaya banget.

Penutup

Nah, gimana, makin paham kan soal pentingnya pembangunan trotoar jalan yang sesuai syarat kelayakan? Sekarang, coba deh, lihat lagi trotoar di sekitarmu—apakah sudah layak dan nyaman buat para pejalan kaki? Kalau ternyata masih banyak yang nggak sesuai, mungkin ini saatnya kamu ikut bersuara. Bisa dengan menyampaikan ke pihak terkait atau sekadar diskusi kecil bareng teman-teman, siapa tahu jadi langkah awal buat perubahan.

Intinya, trotoar itu hak pejalan kaki, dan syarat kelayakannya wajib banget diperhatikan. Jadi, yuk, terus peduli sama ruang publik yang sering kita pakai sehari-hari. Kalau kamu punya pengalaman menarik atau ide soal perbaikan trotoar, jangan ragu buat share ya—siapa tahu bisa jadi inspirasi buat orang lain. – Oruma.id

Oruma Indonesia

Hai semuanya! Nama aku Olivia, dan aku adalah penulis konten di sini. Saya senang banget bisa berbagi informasi seru dan bermanfaat dengan kalian semua. Kalau kalian pernah bingung nyari informasi seputar kontraktor & interior, udah tepat banget ada disini.
Back to top button
-->